Jumat, 13 November 2015

PSIKOLOGI BELAJAR MENURUT E.R GUTHRIE



sumber: en.wikipedia.org
E.R Guthrie (186-1959) yang mengembangkan teori belajar S-R di Universitas Washington. Menurut Guthrie, bahwa prinsip kontiguitas adalah kombinasi stimuli yang telah menghasilkan respon diteruskan sehingga stimulus yang dikontigukan tetap menghasilkan respon tadi. Guthrie menolak hukum ulangan yang dianut Watson.
Di dalam teori belajarnya, Guthrie berpendapat, bahwa organisme otot-otot dan pengeluaran getah kelenjar-kelenjar. Respon semacam itu disebut gerakan-gerakan. Guthrie mengatakan, suatu tindakan terdiri atas serentetan gerakan-gerakan yang diasosiasikan bersama dengan hukum kontiguitas. Guthrie menolak teori Thorndike yang mengatakan bahwa dasar respon adalah tindakan-tindakan dan bukan gerakan-gerakan.

Kamis, 12 November 2015

PSIKOLOGI BELAJAR MENURUT PAVLOV


sumber: www.quotesgram.com
Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia dan pavlov dikenal sebagai lulus sarjana kedokteran dalam bidang dasar fisiologi. Pada tahun 1884 ia menjadi Direktur Departemen Fisiologi Institute Of Experimental Medicine dan pada saat itu ia memulai penelitianya mengenai fisiologi pencernaan dan pada tahun 1904 ia mendapatkan suatu penghargaan nobel dalam bidang Physiology or Medicine dan pavlov berhasil mempengaruhi psikologi behavioristik di Amerika.

Menurut pavlov aktivitas manusia dapat dibedakan atas dua bagian yaitu :
  1. Aktivitas yang bersifat relatif
    Organisme membuat suatu respon tanpa disadari sebagai suatu refleks terhadap suatu stimulus
    2. Aktivitas yang disadari
        Suatu stimulus yang diterima berpusat pada kesadaran yang kemudian
        barulah menimbulkan suatu respon 
Pavlov mencoba melakukan suatu ekperimen dengan menggunakan anjing sebgai bahan percobaan dan menurut pavlov ketika anjing tersebut melihat suatu makanan maka akan memberikan suatu respon dengan mengeluarkan air liur dan hal tersebut menurut pavlov itu suatu kewajaran. Dalam teori ini pavlov tidak hanya memberikan suatu stimulus sekali saja akan tetapi berkali-kali.

Rabu, 11 November 2015

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)


Pendahuluan
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan salah satu masalah serius yang menghantui kehidupan berumah tangga. KDRT dapt menimpa siapa saja tidak memandang dari golongan/status sosial mana keluarga tersebut berasal. Jumlah kasus KDRT yang terjadi sangatlah banyak, berdasarkan informasi dari www.zamrudtv.com jumlah kasus KDRT menurut Komnas perlindungan perempuan pada tahun 2011 mencapai 110.468 kasus. Jumlah tersebut belum termasuk dengan kasus KDRT yang tidak terseteksi. Tingginya jumlah kasus KDRT dan adanya tren peningkatan jumlah kasus dari tahun ke tahun memberikan suatu pekerjaan rumah bagi pemerintah maupun masyarakat untuk meminalisir angka keterjadian kasus KDRT. Disamping itu perlindungan dan pendampingan terhadap korban KDRT merupakan kewajiban bagi negara yang harus dilaksanakan. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai KDRT dan solusinya.

Makalah Perkembangan


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Setiap individu akan mengalami proses perkembangan yang tidak akan dapat ditolak, terlepas dari kehendak individu yang bersangkutan. Masa dewasa adalah masa dimana individu telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukannya dalam masyarakat bersama begitupun dengan orang dewasa lainnya.
Secara fisik, seorang dewasa menampilkan profil yang sempurna dalam arti bahwa pertumbuhan dan perkembangan aspek-aspek secara fisiologis telah mencapai posisi puncak. Mereka memiliki daya tahan dan taraf kesehatan yang prima sehingga dalam melakukan berbagai kegiatan tampak inisiatif, kreatif, energik, cepat, dan proaktif.
Begitupun secara psikis, seseorang yang merasa ia bertanggung jawab, menyadari makna kehidupan serta berusaha akan nilai-nilai yang telah ia pilih, mungkin bisa dikatakan ia seseorang yang memasuki masa dewasa. Menurut Gould, “usia yang tepat saat perubahan-perubahan itu terjadi adalah produk dari kepribadian gaya hidup dan sub-budaya total seorang individu”.
Setiap fase perkembangan memiliki tugas-tugas perkembangan. Tugas-tugas perkembangan tersebut merupakan pengharapan atas apa yang akan diakukan oleh seseorang pada masa perkembangannya. Tugas perkembangan itu muncul karena adanya kematangan fisik, mental dan tuntutan lingkungan sosial. Kegagalan dalam menjalani tugas perkembangan dapat mengakibatkan kekurangsiapan dan kekurangmatangan dalam memasuki tahapan berikutnya.

Selasa, 10 November 2015

APLIKASI PSIKOLOGI SOSIAL DALAM BIDANG KESEHATAN


Menurut Matarazzo (1980), Psikologi menjadi terlibat secara mendalam dalam mempromosikan kesehatan yang baik, pencegahan dan pemberantasan penyakit dan meningkatkan sistem perawatan kesehatan. Salah satu contoh dari psikologi sosial dalam kesehatan adalah mengaplikasikan prinsip persuasi untuk mempengaruhi orang lain untuk berhenti merokok dan memulai program latihan, mempelajari untuk berhenti merokok dan memulai program latihan, mempelajari bagaimana dokter dan pasien berkomunikasi, dan meneliti bagaimana hubungan interpersonal dapat mempengaruhi kesehatan atau kesembuhan dari penyakit. penelitian yang menyelidiki faktor-faktor penyebab penyakit, seperti stress. Pertama, dua faktor psikologi sosial yang berhubungan dengan penyebab penyakit dan kesembuhan dari penyakit, yaitu gender dan relasi atau hubungan antara stress dan support atau dukungan. Penyakit sebagai sebuah peran sosial, penting untuk dikontrol dan akibatnya bagi teknologi kedokteran.

Rabu, 16 September 2015

Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Terhadap Motivasi Kerja Perawat Di Instalasi Rawat Inap (Irna) II RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Ayu Dewiati Savitri
Wira Usaha di Jakarta

Abstrct: In industrial development, technology and institution public hospital in Indonesia, various changes will happen in the future including the changes people who always wants the best services and development and economic growth in all fields. Purpose of researchers is to known the influence style leadership transformational against motivation work nurse in installation inpatient (IRNA) II general hospital Dr. Saiful Anwar Malang. The sample used in this study were 72 persons the nurse, with techniques of propotional random sampling. The validity of the calculation using the formula correlation product moment. While the details of the reliability scale test using test programs reliability engineering Hoyt. Analysis of test data obtained Freg = 51,618 with p = 0.000 revealed highly significant, means that there is the influence of a style of transformational leadership against nurses motivation work in Inpatient II Installation General Hospital Dr. Saiful Anwar Malang.

KeyWords: Transformational leadership style and work motivation

Abstrak: Pada perkembangan industri, teknologi dan institusi rumah sakit umum di Indonesia, berbagai perubahan akan terjadi di masa yang akan datang termasuk perubahan pada masyarakat yang selalu menginginkan pelayanan yang terbaik maupun perkembangan dan pertumbuhan ekonomi di segala bidang. Tujuan dari peneliti ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap motivasi kerja perawat di Instalasi Rawat Inap (IRNA) II Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 72 orang perawat, dengan teknik propotional random sampling. Perhitungan validitas menggunakan rumus korelasi product moment. Sedangkan uji reliabilitas butir skala menggunakan program uji keandalan teknik Hoyt. Uji analisis data diperoleh Freg = 51,618 dengan p = 0,000 dinyatakan sangat signifikan, artinya ada pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap motivasi kerja perawat di Instalasi Rawat Inap II Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang.

Kata Kunci : Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Motivasi Kerja

Download Full Text (PDF)

Jumat, 21 Agustus 2015

KECEMASAN DAN INTROVERT

       Kecemasan pada dasarnya adalah suatu alat alami yang memberi peringatan untuk diri seseorang dalam menghadapi suatu ancaman yang datang pada dirinya. Pada dasarnya setiap orang normal bila mengalami kecemasan, tetapi bila kecemasan ini sudah mengganggu kehidupan seseorang maka kecemasan dapat menjadi gangguan dan ancaman. Dampak dari gangguan kecemasan dapat juga berakibat pada gangguan secara fisik. Hal tersebut terjadi karena pada saat kita mengalami kecemasan banyak hormon dan zat kimia tubuh yang dikeluarkan yang dapat mengganggu fungsi metabolisme tubuh, dan bila metabolisme tubuh terganggu kesehatan fisik juga dapat terganggu.
       Gangguan kecemasan pada banyak kasus lebih cenderung dialami oleh orang yang bersifat intro-vet. Introvet merupakan sifat kepribadian seseorang yang cenderung lebih fokus kepada keadaan dirinya dari pada ke lingkungannya. Ciri-ciri seseorang dengan kepribadian introvet diantaranya adalah lebih suka menyendiri, tidak mudah bergaul, tertutup, serta tidak mudah mengungkapkan perasaannya. Kecemasan pada dasarnya berkaitan dengan stres yang dialami oleh individu, dan individu dengan sistem coping yang baik akan dapat mengatasi stres yang dialaminya dan cenderung mampu mengatasi kecemasan yang dialaminya. Pada individu introvert kecemasan akan lebih sulit untuk diatasi karena ada kecenderungan menutup diri dan kurang dapat mengungkapkan permasalahannya. 
       Permasalahan yang sering dipendam dan tidak langsung diselesaikan dapat menumpuk di alam bawah sadar kita, dan dapat menimbulkan masalah bila suatu saat hal tersebut terpicu untuk dikeluarkan langsung secara bersama-sama (keluar dalam bentuk luapan emosi berlebih). Selain itu permasalahan yang sering dipendam dapat membuat pikiran kita selalu berpikiran negatif yang pada akhirnya menghambat perkembangan kemampuan yang kita miliki, karena permasalahan yang tak terselesaikan dapat menimbulkan resistensi psikologis. Resistensi psikologis yang muncul tersebut dapat berupa ketakutan, pesimistis, ataupun kecemasan.
       Bagi orang dengan kepribadian ekstrovert mungkin akan lebih mudah dalam menyelesaikan se-tiap permasalahan yang dihadapinya, tetapi bagi orang introvert hal tersebut mungkin menjadi sesuatu yang sulit. Tetapi hal tersebut bergantung juga dengan pola asuh dan bagaimana lingkungan memberikan pengaruh kepada seseorang, karena tidak semua orang introvert "terjebak" dalam dirinya sendiri. 
       Mengatasi kecemasan pada dasarnya adalah menyelesaikan sumber yang menjadi masalah sehingga kecemasan akan hilang. Bagi individu yang kurang baik dalam mengatasi masalahnya dan sering menyimpannya dalam alam bawah sadarnya, aka lebih baik bila emosi-emosi terpendam tersebut disalurkan sedikit demi sedikit agar beban pikirannya berkurang. Lalu bagaimana caranya? ada beberapa cara yang mungkin dapat dilakukan bagi orang yang kurang mampu menyalurkan emosinya antara lain:
1)  Berbicara dengan diri sendiri, kadang kala saat kita sendiri dan menemukan diri kita di cermin, terkadang kita menemukan sesosok teman yang dapat dipercaya. Ya, diri kita adalah orang yang dapat kita percayai bila kita tidak dapat mempercayai orang lain untuk kita berkeluh kesah tentang masalah kita. Dengan mengungkapkan permasalahan kita pada diri sendiri, maka emosi-emosi yang sedang kita hadapi akan tersalurkan dengan sendirinya, dan kita akan lebih merasa lega setelahnya.

2)  Menulis adalah cara berikutnya yang dapat dilakukan bagi orang-orang yang suka mengungkap-kan perasaannya dalam bentuk tulisan. Menuliskan berbagai permasalahan kita dalam bentuk tulisan akan menyalurkan energi negatif dalam diri kita sehingga kita akan lebih tenang.

3)  Berteriak adalah salah satu cara yang dapat dicoba dan dilakukan bila kita sedang menghadapi suatu masalah, karena banyak orang melakukan hal tersebut dan kebanyakan dari mereka merasa lebih baik saat melakukannya.